23 Desember 2008

Tukang Arloji


Di Jerman tinggal seorang tukang arloji. Namanya Herman Josep. Dia tinggal di sebuah kamar yang sempit. Di kamar itu ada sebuah bangku kerja, sebuah lemari tempat kayu dan perkakas kerjanya, sebuah rak untuk tempat piring dan gelas serta tempat tidur lipat di bawah bangku kerjanya.

Selain puluhan arloji yang sudah dibuatnya tidak ada barang berharga lain di kamarnya. Di jendela kaca kamar itu Herman menaruh sebuah jam dinding paling bagus untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat. Herman adalah seorang tukang arloji yang miskin. Pakaiannya compang-camping. Tetapi dia baik hati. Anak-anak di sekitar rumah menyukainya. Kalau permainan mereka rusak, Herman biasa diminta memperbaiki. Herman tak pernah minta satu sen pun untuk itu. “Belilah makanan yang enak atau tabunglah uang itu untuk hari Natal.” Ini jawaban yang Herman selalu berikan.

Sejak dulu penduduk kota itu biasa membawa hadiah Natal ke kathedral dan meletakkannya di kaki patung Maria yang sedang memangku bayi Yesus. Setiap orang menabung supaya bisa memberi hadiah yang paling indah pada Yesus. Orang-orang bilang, kalau Yesus suka hadiah yang diberikan kepada-Nya, Ia akan mengulurkan tangan-Nya dari pelukan Maria untuk menerima bingkisan itu. Tentu saja ini legenda. Belum pernah terjadi bayi Yesus dalam pelukan Maria mengulurkan tangan menerima bingkisan Natal untuk-Nya.

Meskipun begitu penduduk kota itu selalu berusaha membawa bingkisan yang paling indah. Para penulis puisi membuat syair-syair yang aduhai. Anak-anak juga tidak ketinggalan. Setiap orang berlomba memberikan yang terbaik pada Yesus di Hari Natal. Siapa tahu, kata mereka, Yesus mengulurkan tangan menerima pemberian itu. Orang-orang yang tidak punya bingkisan, pergi ke Gereja untuk berbakti pada malam Natal sekaligus menilai bingkisan mana yang terindah. Herman, tukang arloji, adalah salah seorang yang hanya pergi untuk berbakti dan menonton.

Pernah ada seorang teman mencegah Herman dan bertanya: “Kau tidak tahu malu. Tiap tahun kau tak pernah membawa bingkisan Natal buat Yesus?” Pernah satu kali panitia Natal bertanya: “Herman! Mana bingkisan Natal darimu? Orang-orang yang lebih miskin dari kau saja selalu bawa.” Herman menjawab: “Tunggulah, satu ketika saya akan bawa bingkisan.” Tapi sedihnya, tukang arloji ini tak pernah punya apa-apa untuk Yesus. Arloji yang dibuatnya dijual dengan harga murah. Kadang-kadang ia memberikan gratis pada orang yang benar-benar perlu.

Tetapi dia punya ide. Tiap hari ia bekerja untuk bingkisan natal itu. Tidak satu orangpun yang tahu ide itu kecuali Trude, anak perempuan tetangganya. Trude berumur 7 tahun waktu ia tahu ide Herman. Tetapi setelah Trude berumur 31 tahun bingkisan itu belum selesai. Herman membuat sebuah jam dinding. Mungkin yang paling indah dan belum pernah ada. Setiap bagian dikerjakan dengan hati-hati dan penuh kasih. Bingkainya, jarum-jarumnya, beratnya, dan yang lainnya diukir dengan teliti. Sudah 24 tahun Herman merangkai jam dinding itu.

Masuk tahun ke-25 Herman hampir selesai. Tapi dia juga masih terus membantu memperbaiki mainan anak-anak. Perhatiannya pada hadiah Natal itu membuat dia tidak punya cukup waktu untuk buat arloji dan menjualnya. Kadang Herman tidur dengan perut kosong. Ia makin tambah kurus tetapi jam dindingnya makin tanbah cantik. Di jam dinding itu ada kandang, Maria sedang berlutut di samping palungan yang di dalamnya terbaring bayi Yesus. Di sekeliling palungan itu ada Yusuf serta tiga orang Majus, gembala-gembala dan dua orang malaikat. Kalau jam dinding itu berdering, orang-orang tadi berlutut di depan palungan Yesus dan terdengar lagu “Gloria in Excelsis Deo”.

“Lihat ini!” kata Herman pada Trude. “Ini berarti bahwa kita harus menyembah Kristus bukan hanya pada hari Minggu atau hari raya tetapi pada setiap hari dan setiap jam. Yesus menunggu bingkisan kita setiap detik.” Jam dinding itu sudah selesai. Herman puas. Ia menaruh benda itu di jendela kaca kamarnya supaya bisa dilihat orang. Orang-orang yang lewat berdiri berjam-jam mengagumi benda itu. Mereka sudah menduga bahwa ini pasti bingkisan Natal dari Herman. Hari Natal sudah tiba. Pagi itu Herman membersihkan rumahnya. Ia mengambil pakaiannya yang paling bagus. Sambil bekerja ia melihat jam dinding itu. Ia takut jangan-jangan ada kerusakan. Dia senang sekali sehingga ia memberikan uang yang dia miliki kepada pengemis-pengemis yang lewat di rumahnya.

Tiba-tiba ia ingat, sejak pagi dia belum sarapan. Ia segera ke pasar untuk membeli sepotong roti dengan uang terakhir yang ada padanya. Di lemarinya ada sebuah apel. Ia mau makan roti dengan apel itu. Waktu dia buka pintu, Trude masuk sambil menangis. “Ada apa?” tanya Herman. Suami saya mengalami kecelakaan. Sekarang dia di RS. Uang yang kami tabung untuk beli pohon Natal dan kue harus saya pakai untuk bayar dokter. Anak-anak sudah menuggu hadiah Natal. Apa lagi yang harus saya berikan untuk mereka?”

Herman tersenyum. “Tenanglah Trude. Semua akan beres. Saya akan jual arloji saya yang masih sisa. Kita akan punya cukup uang untuk beli mainan anak-anak. Pulanglah.”

Herman mengambil jas dinginnya lalu pergi ke pasar dengan satu jam tangan yang unik. Ia tawarkan jam itu di toko arloji. Tapi mereka tidak berminat. Ia pergi ke kantor gadai tapi pegawai-pegawai bilang arloji itu kuno. Akhirnya ia pergi ke rumah walikota. “Tuan, saya butuh uang untuk membeli mainan bagi beberapa anak. Tolong beli arloji ini?” Pak walikota tertawa. “Saya mau beli arloji tetapi bukan yang ini. Saya mau jam dinding yang ada di jendela kaca rumahmu. Berapapun harganya saya siap.” “Tidak mungkin tuan. Benda itu tidak saya jual.”"Apa? Bagi saya semua mungkin. Pergilah sekarang. Satu jam lagi saya akan kirim polisi untuk ambil jam dinding itu dan kau dapat uang 1000 dolar.”

Herman pergi sambil geleng-geleng kepala. “Tidak mungkin! Saya mau jual semua yang saya punya. Tapi jam dinding itu tidak. Itu untuk Yesus.” Waktu ia tiba dekat rumah, Trude dan anak-anaknya sudah menunggu. Mereka sedang menyanyi. Merdu sekali. Baru saja Herman masuk, beberapa orang polisi sudah berdiri di depan. Mereka berteriak agar pintu dibuka. Jam dinding itu mereka ambil dan uang 1000 dolar diberikan pada Herman. Tetapi Herman tidak menerima uang itu. “Barang itu tidak saya jual. Ambillah uang itu,” teriak Herman sedih. Orang-orang itu pergi membawa jam dinding serta uang tadi. Pada waktu itu lonceng gereja berbunyi. Jalan menuju kathedral penuh manusia. Tiap orang membawa bingkisan di tangan.

“Kali ini saya pergi dengan tangan kosong lagi”, kata Herman sedih. “Saya akan buat lagi satu yang lebih cantik.” Herman bangkit untuk pergi ke gereja. Saat itu ia melihat apel di dalam lemari. Ia tersenyum dan meraih apel itu. “Inilah satu-satunya yang saya punya, makanan saya pada hari natal. Saya akan berikan ini pada Yesus. Itu lebih baik dari pada pergi dengan tangan kosong.”

Katedral penuh. Suasana bukan main semarak. Ratusan lilin menyala dan bau kemenyan terasa di mana-mana. Altar tempat patung Maria memangku bayi Yesus penuh dengan bingkisan. Semuanya indah dan mahal. Di situ juga ada jam dinding buatan tukang arloji itu. Rupanya Pak walikota mempersembahkan benda itu pada Yesus. Herman masuk. Ia melangkah dengan kaki berat menuju altar dengan memegang apel. Semua mata tertuju padanya. Ia mendengar mereka mengejek, makin jelas. “Cih! Dia memang benar-benar pelit. Jam dindingnya yang indah dia jual. Lihatlah apa yang dia bawa. Memalukan!”

Hati Herman sedih, tetapi ia terus maju. Kepalanya tertunduk. Ia tidak berani memandang orang sekeliling. Matanya ditutup. Tangan yang kiri diulurkan ke depan untuk membuka jalan. Jarak altar masih jauh. Herman tahu bahwa ia harus naik anak tangga untuk sampai ke altar. Sekarang kakinya menyentuh anak tangga pertama. Herman berhenti sebentar. Ia tidak punya tenaga lagi. Sejak pagi dia belum makan apa-apa. Ada tujuh anak tangga. “Dapakah saya sampai ke altar itu?”

Herman mulai menghitung. Satu! Dua! Tiga! Empat! lalu ia terantuk dan hampir terguling ke bawah. Serentak semua orang berkata: “Memalukan!” Setelah mengumpulkan sisa tenaga Herman bergerak lagi. Tangga kelima. Kedengaran suara mengejek: “Huuuu…!” Herman naik setapak lagi. Tangga keenam. Omelan dan ejekan orang-orang berhenti. Sebagai gantinya terdengar seruan keheranan semua orang yang hadir. “Mujizat! Sebuah mujizat!!!”

Hadirin seluruhnya turun dari kursi dan berlutut. Imam merapatkan tangannya dan mengucapkan doa. Herman, tukang arloji yang miskin ini menaiki anak tangga yang terakhir. Ia mengangkat wajahnya. Dengan heran ia melihat patung bayi Yesus yang ada di pangkuan Maria sedang mengulurkan tangan untuk menerima bingkisan Natal darinya. Air mata menetes dari mata tukang arloji itu. Inilah hari Natal yang paling indah dalam hidupnya.

Diterjemahkan oleh: Eben Nuban Timo dari buku “Het Hele Jaar Rond. Van sinterklaas tot sintemaarten.” Disunting oleh Marijke van Raephorst (Rotterdam: Lemniscaat, 1973), hal. 61-66.

Letter from Heaven




















As you well know, we are getting closer to my birthday. Every year there is a celebration in my honor and I think that this year the celebration will be repeated.


During this time there are many people shopping for gifts, there are many radio announcements, TV commercials, and in every part of the world everyone is talking that my birthday is getting closer and closer. It is really very nice to know, that at least once a year, some people think of me. As you know, the celebration of my birthday began many years ago. At first people seemed to understand and be thankful of all that I did for them, but in these times, no one seems to know the reason for the celebration. Family and friends get together and have a lot of fun, but they don't know the meaning of the celebration. I remember that last year there was a great feast in my honor. The dinner table was full of delicious foods, pastries, fruits, assorted nuts and chocolates. The decorations were exquisite and there were many, many beautifully wrapped gifts.

But, do you want to know something? I wasn't invited.

I was the guest of honor and they didn't remember to send me an invitation. The party was for me, but when that great day came, I was left outside, they closed the door in my face .. and I wanted to be with them and share their table. In truth, that didn't surprise me because in the last few years all close their doors to me. Since I wasn't invited, I decided to enter the party without making any noise. I went in and stood in a corner. They were all drinking; there were some who were drunk and telling jokes and laughing at everything. They were having a grand time.

To top it all, this big fat man all dressed in red wearing a long white beard entered the room yelling Ho-Ho-Ho! He seemed drunk. He sat on the sofa and all the children ran to him, saying: "Santa Claus, Santa Claus"as if the party were in his honor!

At midnight all the people began to hug each other; I extended my arms waiting for someone to hug me and do you know no-one hugged me. Suddenly they all began to share gifts. They opened them one by one with great expectation. When all had been opened, I looked to see if, maybe, there was one for me. What would you feel if on your birthday everybody shared gifts and you did not get one?

I then understood that I was unwanted at that party and quietly left. Every year it gets worse. People only remember the gifts, the parties, to eat and drink, and nobody remembers me. I would like this Christmas that you allow me to enter into your life. I would like that you recognize the fact that almost two thousand years ago I came to this world to give my life for you, on the cross, to save you.

Today, I only want that you believe this with all your heart. I want to share something with you. As many didn't invite me to their party, I will have my own celebration, a grandiose party that no one has ever imagined, a spectacular party. I'm still making the final arrangements..

Today I am sending out many invitations and there is an invitation for you. I want to know if you wish to attend and I will make a reservation for you and write your name with golden letters in my great guest book. Only those on the guest list will be invited to the party. Those who don't answer the invite, will be left outside. Be prepared because when all is ready you will be part of my great party.

See you soon. I Love you!
God



16 Desember 2008

selalu seperti itu

berapa luka yang kau berikan hari ini?
tentang keniscayaan dan apalah macamnya itu,
aku tahu kalian sudah habis kata.

harusnya kita diam saja...
diam saja..

diamkan saja...


anggawedhaswhara |dudungrealita
www.perfarmerlab.blogspot.com

11 Desember 2008

Harga Perdamaian













"Hari ini engkau tampak lelah Dave, ada apa?"

"Ah, saya baru pulang ke rumah pagi-pagi sekali karena saya harus lembur, kerjaan yang bertumpuk. Dan ketika saya sedang berganti pakaian istri saya, Listya terbangun dan berkata :

"Apakah tidak terlalu pagi untuk berangkat kerja,Dave?'


Maka untuk menghindari pertengkaran, saya mengenakan pakaian saya dan kembali bekerja lagi."

Harga sebuah perdamaian?

(De Mello)

Kau dan Aku


















Seorang yang sedang jatuh cinta mengetuk pintu rumah kekasihnya.

"Siapa?" tanya sang kekasih dari dalam.

"Aku" kata orang itu,

"Pergi sajalah! Rumah ini tidak akan muat untuk kau dan aku."

Orang yang cintanya ditolak ini pergi ke padang gurun. Di sana ia merenung selama berbulan-bulan, memikir-mikirkan kata-kata kekasihnya. Akhirnya, ia kembali dan mengetuk pintu rumah kekasihnya lagi.

"Siapa yang mengetuk itu?"

"Engkau!"

Segera pintu dibukakan.


(de Mello)

05 Desember 2008

'Aku Ingin'

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono)

Mudah-mudahan 'AIR' masih inget
hehehehe...........

02 Desember 2008

BABI

















Setiap kali menuliskan namanya, selalu keseleo dan menulis kata "babi". Fenomena ini membuat Anwar sangat terganggu sampai dia mengambil keputusan untuk mengamputasi tangan kanannya itu. Lalu segera ia berangkat menemui seorang dokter bedah. Tapi dokter bedah tidak mau memotong tangan itu, sebaliknya menuduh bahwa tangan kiri Anwarlah yang berulah:

"Ini politik. Tangan kiri saudara iri kepada tangan kanan yang pakai jam dan cincin kawin. Lalu ia mencoba membuat sabotase. Sementara saudara menulis ia menutup muka dan mata saudara, lalu menggosok tulisan 'Anwar' menjadi 'Babi'.


Dengan diagnostik alá seorang psikolog, lalu menyuruh memindahkan jam serta cincin ke tangan kirinya. Kemudian dokter bedah itu menyuruh Anwar untuk menuliskan namanya di atas kertas kosong. Dengan gemetar Anwar mulai mencoba menuliskan namanya dan akhirnya berhasil membuat tangan kanan itu menuliskan nama "Anwar" dengan benar . Dan dokterpun senang melihat perkembangan baik itu. Kemudian dia menyuruh Anwar membaca tulisan pada kertas kosong itu.

"Sekarang bacalah!"suruh sang dokter.

Dengan wajah penuh peluh, dia mengucap dengan suara lantang:


"BABI!"


(Putu Wijaya)

Tenggelam



Kita tenggelam
bukan karena jatuh ke air!
Tapi.....
tetap diam disana!!

29 November 2008

Menanam Pohon Mangga




















Ketika musim penghujan tiba. Seorang tua menggali lubang di halaman belakang rumahnya.

"Apa yang kau kerjakan?" tanya seorang tetangganya.

"Sedang menanam pohon mangga" jawabnya.

"Apakah mengharapkan dapat memakan buah dari pohon yang kau tanam itu?"sambung tetangganya lagi.

"Tidak. Saya tidak akan menunggu sebegitu lama untuk itu. Tetapi orang lain setelah aku yang akan memakannya.Itu telah aku nikmati pada waktu yang berlainan, bahwa mangga yang aku nikmati sepanjang hidupku itu telah ditanam oleh orang lain sebelum aku. Dan inilah bentuk ungkapan terima kasihku kepada mereka".

(de Mello)

Team Work













Pada suatu ketika anggota-anggota tubuh merasa sangat berang
terhadap perut. Mereka semua iri karena mereka harus menyediakan makanan dan membawanya ke perut, sementara perut sendiri tidak berbuat lain kecuali mencerna hasil jerih payah mereka.

Maka mereka memutuskan untuk tidak membawa lagi makanan ke perut. Tangan tidak mau mengangkat makanan ke mulut. Gigi tidak mau mengunyah lagi dan tenggorokan tidak mau menelan. Ini akan memaksa perut untuk melakukan sesuatu.

Namun hasil keputusan mereka hanyalah tubuh yang lemah,
begitu lemah sampai mereka berada dalam bahaya mati. Demikian akhirnya merekalah yang belajar bahwa dalam saling membantu mereka sebenarnya bekerja untuk kebaikan mereka sendiri.

(De Mello)

Masa sulit


Seseorang mengalami masa sulit.
Maka ia mulai
berdoa cara berikut:

"Tuhan, ingatlah tahun-tahun yang sudah lewat
aku mengabdi-Mu sebaik mungkin, tidak minta apa-apa sebagai balasan.
Sekarang aku sudah tua, bangkrut lagi.
Sekarang aku memohon kebajikanMu untuk pertama kalinya
di dalam hidupku dan aku yakin Engkau tidak akan berkata Tidak:
Biarlah aku menang lotre."

Hari lewat... lalu minggu...lalu bulan.
Tetapi tak terjadi sesuatu.
Akhirnya, hampir-hampir putus asa, ia berteriak :
"Mengapa aku tidakk Kau beri kesempatan
agar aku tidak sengsara. Biarkan aku menang lotre, Tuhan!"

Tiba-tiba terdengar suara Tuhan menjawab :
"Aku ingin membantumu.Berilah aku kesempatan juga.
Beli dulu lotrenya!"


(De Mello)

24 November 2008

Tentang perubahan


Berdagang siomay yang telah dijalani selama hampir 25 tahun ternyata membuat seorang pedagang siomay mengeluh tentang pekerjaannya ini. Dia merasa jenuh berjualan siomay sebegitu lama. Dia rasa sudah begitu muak dengan jenis dagangannya yang hanya begitu-begitu saja. Siomay! Dia dan keluarganya sudah hapal betul rasa dan bagaimana meramu siomay ini. Hampir setiap hari dia dan keluarga sarapan, makan siang, makan malam bahkan untuk cemilan di sore haripun siomay itu yang selalu terhidang. Tapi inilah yang hanya dia bisa lakukan untuk menghidupi keluarganya dan semua pelanggannya suka. Terbukti dari waktu yang telah dijalani dalam berdagang siomay ini. Kejenuhan ini kian lama kian memuncak pada sepuluh tahun terakhir ini. Ingin rasanya berganti dagangannya. Beberapa jenis telah dia coba buat dan tawarkan. Tapi hampir sebagian besar pelanggannya tidak menyukainya. Malah setiap hari selalu datang para pelanggan baru yang ingin mencoba mencicipi siomay ini. Mereka mendambakan rasa dan sajian siomay yang lezat Mereka merasa dengan menikmati siomay itu selain mengenyangkan juga dapat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ditambah ketika menyantap hidangan siomay di suasana tempat berdagang itu, bisa menemukan kawan baru bahkan dunia! Lalu bagaimana melakoni kejenuhan yang mendera? Dia berpikir sejenak..... Tak ada yang lebih indah ketika bisa terus mencintai membuat siomay dan melayani orang-orang yang setiap saat membutuhkan siomay. Tak peduli kita muak, jenuh atau tidak. Lihat sekeliling banyak yang mengantri mencicipi siomay buatan kita.
Dan akhirnya dia memperbaharui cinta dan semangatnya setiap pagi! Menyambut dunia!

David Darmawan

21 November 2008

Harap





Bicarakah awan terhadap lembayung...


biru dan hijau yang kami lihat....


Harap terbungkus dalam kepahitan....


rintik basah mulai mengering.....


tersirat dalam wajah yang riang.....


,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,


Rudy - Antena

19 November 2008


Berikan teduhmu...
dan
Ku sampaikan hangatku...

Langit yang dulu sendu
tak lagi mengejakan rindu

Gelap...gelap...pergilah
terang...terang...datanglah!


DCrow

17 November 2008

ini bukan puisi

pertama saya mau ucapkan selamat kepada anggota keluarga baru kita EVOLUSI.
semoga kalian bisa ngebuktiin semua harapan kalian dari nama ini.
kedua saya mau mencoba untuk terlibat lagi di kegiatan T'AH. ini memang janji saya yg belum terlaksana selama bertahun2 kemaren.
saya akan mendampingi TB sebagai ketua alumni untuk membimbing kegiatan2 di T'AH. untuk memfasilitasi ini saya udah bikin forum alumni di facebook.
jadi saya minta dukungan dari semua alumni dengan harapan T'AH akan menjadi lebih baik. bagi alumni yg mau berkontribusi silakan add saya di facebook dan kasi pesen kalo mu di add ke grup nya.
sementara itu saya akan mempersiapkan program T'AH sama TB, kalau udah ada hasil pasti saya posting disini.

sip

hangdimas
transisi

15 November 2008

no more rain..

no more rain..
no..
there's no 'me' in his life..
no more..
no more tears..
no more anger..
no more shout..
no more...

then why am I still here...?
why my feet couldnt moved?
why my eyes keep looking for him?
why my lips whispering his name?
why my brain just couldnt think...

calm down...
calm down my heart..
the storm will pass..
the wind will blow...
the sun will shine...

but still... I'm missing the rain

10 November 2008

All of my life


Unexpectedly you step into my life
Filling up the emptiness I can't hide
Brightens day as candle lights a darken night
On me an everlasting love you poured out

Ever burning,sweet flaming love we hold tight
Cherish each memory of us though we're apart
Yearn of that first kiss for our lips to touch
And warm embraces for a cold hollow night

A million miles away you are from me
Such painful reality we need to take
We're binded with wondrous love and bravest hope
Believing that you and I will finally meet

Feeling this love we found is paradise
Strong and giving as the sun gives moon its light
Magical it maybe how you've touch my heart
A love spell that bounds me for all of my life


Mae

08 November 2008

tertawa

pernahkah berpikir kalau tertawa itu mahal dan susah?

bukan tertawa ketika teman kita mengeluarkan lelucon yang ga lucu...tapi kita tetap tertawa biar dia tidak sakit hati...
bukan tertawa getir atow sendu ketika menemui masalah yang kita tidak tahu bagaimana cara mengatasinya..dan akhirnya hanya bisa tertawa...

bukan temanku...bukan tertawa seperti itu...

tapi tertawa yang lepas dan bahagia...
tertawa lho yah..bukan tersenyum...

tertawa dimana kita bisa melupakan segala susah, kecewa, sedih...tidak berpikir mengenai masa lalu atau masa depan...yang terpikir dan terasa hanyalah saat itu...momen itu.....
bahagia
senang


-Img/transisi-

07 November 2008

B.A.B.E
















dalam setiap perjalanan
tak nampak lagi keteduhan
yang biasanya tercurah tanpa diminta
ah....
telah ku bisikan mesra pelepas dahaga
namun dimanakah kau?

Kau yang hadir disana
sampaikan keteduhan itu
namun kau bawakan pelangi...

Lalu...

bagaimana merengkuhmu
ketika raga tak cukup mampu menyentuhmu?

d'Crow

d.e.p. pengisi ruang kamarku

ia adalah anugerah kehidupan api kecantikannya telah membakar ruang kamarku aku terus berlari dan berlindung dibalik bingkai fotonya
--suatu malam di rumah temu yang penuh dengan keindahan dan kedamaian, didalamnya tersimpan foto cantik perempuan sendu --
saudara-saudara jiwaku yang berontak, telah tahukah kalian tentang kebahagiaan hatiku ?
apakah aku harus dengan bangga tertawa angkuh dihadapan kalian ?
apakah aku harus berlarian dan berteriak keras dihadapan kalian ?
ataukah aku harus ceritakan tentang pakaian hitam yang selalu aku kenakan ?
baiklah akan aku ceritakan tentang kebahagiaan hatiku.
nah, sebelum mulai bercerita; dilemari sana dapat kalian lihat foto seorang wanita cantik. lihatlah, pandangilah dengan seksama. lihatlah ranum pipinya, dan indah bola matanya.
sekarang aku akan ceritakan ihwal kehidupannya yang membuat aku terus berbahagia dan kegirangan di balik bingkai fotonya.
suatu malam dipusat kota Bandung, seperti biasa di akhir bulan oktober angin semilir menyelimuti kota ini.
aku sedang terbaring didalam kamarku yang mulai menyesakkan.
dibawah langit-langit kamarku yang mulai rapuh, aku mulai terlelap tidur.
dalam tidur lelapku aku bermimpi menemukan sari-sari indah wajah perempuan cantik itu.
yang membuat aku heran, perempuan itu telah hadir dimimpiku untuk kesekian kalinya.
saat itu aku terbangun dan berkata dalam tanya
"perempuan cantik itu, kenapa harus ia yang aku jumpai dalam tidurku?".
lalu dalam pikirku keluar kata "perempuan itu bukan hanya cantik, tetapi ia memang tercipta untuk hadir dalam tidur mu".
tetapi mengapa dia datang hanya dalam tidurku saja?
pikirku kembali menjawab "dia tidak hanya datang dalam mimpimu, sebenarnya ia datang di setiap detik hidup mu".
betulkah ?
lagi-lagi otakku memberi jawaban "betul sekali, hanya saja kamu malas untuk mengakuinya, kamu sepertinya enggan untuk mengatakannya, kamu sebenarnya segan untuk membenarkannya, kamu sebenarnya masih mengagungkan keakuan mu".
lalu apa yang harus aku lakukan ?
pikirku menjawab lagi dengan nada yang meninggi
"jangan pernah malas mengakuinya, jangan pernah enggan mengatakannya, jangan sesekali segan membenarkannya, dan jangan terlalu merasa agung dengan keakuan mu".
"baiklah jika memang itu yang harus aku lakukan, aku akan melakukannya. aku tak akan malu untuk mengakuinya, aku tak akan enggan mengatakannya, dan aku akan membuang semua keakuanku !".
hingga mulai fajar aku tetap termenung di atas ranjangku yang mulai membatu.
pikirku berkata lagi
"wahai jiwa yang memberontak jika kamu memang akan membuang keakuanmu, buanglah dan jangan biarkan ia menggerogoti kembali ruang kalbumu. sekarang kau carilah perempuan itu dan cari tahulah tentang dirinya !".
aku pergi dari ruang kamarku dan melangkah dengan kepastian dan jiwa yang merdeka.
siang itu, kutemui perempuan itu, kutanyakan padanya tentang dirinya. kemudian dengan serta merta ia telah berhasil membongkar topeng ketidaktahuanku.
ketika ia melemparkan senyumnya, itulah saat-saat yang paling indah bagiku; saat sang waktu menelan bulat-bulat ragaku, saat air memecah batu, saat lilin diberi nyala api.
ia kemudian terduduk diatas rumput dan membalas semua tanyaku, "akulah sang dewi waktu yang akan menjemput jiwa-jiwamu dan menghapus kutukanmu, dimanakah aku harus menjemputmu nanti, wahai jiwa terselubung sendu ?".
aku menjawab, meski dengan terengah karena wangi nafasnya telah menyedot suaraku "kau tak usah menjemputku, karena setelah tahu siapa engkau aku akan dengan serta merta mencari keberadaanmu dalam kabut ruang hati ku".
selang waktu berikutnya kutemui lagi perempuan cantik itu di lembah tempat Kais si gila menemukan cintanya.
hal itu terulang sampai beribu-ribu selang waktu berikutnya.
di sudut ruang kamarku ini perempuan itu pernah menginjakkan kakinya dan menebar tawanya.
di sudut ruang kamarku ini pula aku pernah berbisik dalam doaku, semoga Tuhan Sang Pengatur Waktu dapat mengekalkan perkenalanku dengannya.
sejenak setelah Tuhan mengabulkan doaku dan mengekalkan perkenalanku dengan perempuan itu aku makin yakin bahwa suatu saat Ia akan melepaskan kutukanku melalui perempuan itu juga.
hari itu di awal bulan november aku menemuinya dilembah tempat ia bersemayam. aku datang beserta ranumnya buah kehidupan.
"ini aku, tataplah mataku dan kenalilah siapa aku dan apa artinya aku bagi hidupku !" dari balik semak-semak di lembah itu kudengar suaranya. "kaulah sang hidup, dan aku terlahir untuk melepas kutukanmu !"
begitu seterusnya hingga ia selalu hadir disela-sela ruang kamarku.
meski pada akhirnya aku jarang menjumpainya, karena aku menganggap bahwa ia adalah anugerah kehidupan. pertemuan terus menerus dan rayuan-rayuan sendu, lama kelamaan hanya akan menghapuskan kesejatiannya.
begitulah ihwal perempuan itu yang membuat aku selalu kegirangan dan pada akhirnya ia menjadi bagian dari cerita hidupku.
nah, saudara-saudara itulah ceritaku
dan maafkan bila aku berbicara terlalu panjang.

bandung, 27 januari 2001
anggawedhaswara















Kemarin angin datang
membisikan tentang kerinduanku
pagi tadi sinar surya menyapaku
'kau telah kehilangan wajah'

asal kau tahu saja....
sejak lama aku memang tak punya jiwa
telah ku bagikan dengan dunia.

d'Crow

06 November 2008

Di tangan kita!


di tangan kita...
bukan Amrozi cs!
bukan Obama!
bukan televisi!

Kita!

04 November 2008

KU SIMPAN ... BUAT NANTI!















Bulan sepotong terpanggang matahari
dibiarkannya menguap menuju mati.
Angin sepotong digerus hati.
menghilang tanpa punya arti.
Wajahku sepotong penuh duri
tertusuk ketika mengejar hari.
Tapi....
ku simpan...buat nanti!

(ketika aku bertemu denganNya)


D'Crow

Jejak Langkah












JEJAK LANGKAH


Suatu hari aku berjalan di pantai bersama Tuhan.

Pada setiap episode perjalanananku yang penuh dengan anugrah yang diberikanNya untukku.
Ku lihat dua pasang jejak kaki di hamparan pasir di pantai. Sepasang jejak kakiku dan sepasang lagi jejak kaki Tuhan.

Tetapi....


Ketika episode kelam dalam kehidupanku, aku melihat hanya ada sepasang jejak kaki saja di pasir pantai.Tuhan telah meninggalkanku....Lalu aku bertanya kepada Tuhan: "Tuhan, mengapa kau meninggalkanku di saat aku sangat membutuhkanmu!"

Kata Tuhan :

"Kau begitu istimewa. Aku tak pernah meninggalkanmu di kala kekelaman melanda hari-harimu. Jika kau hanya melihat sepasang jejak kaki saja di pantai...itu karena Aku menggendongmu!"


28 Oktober 2008

satu detik yang terbawa

kehidupan adalah satu detik yang terbawa....terus..terus..terus....sampai
satu detik itu berhenti pada satu detik....
satu detik ..yang sangat menggembirakan
satu detik...yang sangat menyedihkan
satu detik...sebuah pertemuan...
satu detik...sebuah perpisahan...
satu detik...aku dan kau...bersama
satu detik...kita membuat sejarah....
satu detik...aku hidup...
dan layaknya...hidup...kau...akan terbawa terus...dalam setiap detikku...

the orbit life of my life febie zauhari

27 Oktober 2008

Perubahan..

Buka bersama.. lewat..
Halal bi Halal.. lewat..
Anjing-anjingan.. lewat..
Spy Who Loved Me?

ah... lewat lagi aja.

15 Oktober 2008

Apapun!
















Tak terbantahkan...
Langit biru menyemarakan hari
Hiasan tertata pada meja makan kita
langit gelap tak selalu menyembunyikan kelam
kau...aku bisa saling bersapa
dinding tak membuat jarak lagi
walaupun cerobong asap polusi menyesakan dada

Bukankah kita tetap dapat bersua ??

D'Crow

11 Oktober 2008

Menyalakan Lilin


Sudahlah......
tak ada lagi yang perlu dipersengketakan.
Bukankah langit telah kembali kelam.
Nyalakan lilin....sebab itu baik adanya.
Karena menyumpahi gelap itu lucu!


Dave Crow

Tentang Surga


Bayanganku tentang surga
adalah.....
langit yang luas dan disitu aku berada bersama keluargaku!

07 Oktober 2008

Apakah yang harus kujawab?

Ketika berkumpul dengan teman-teman almamater, seringkali mereka bertanya..
"Hobi Grup apa saja yang masih aktif di SMANSA?"
sampai akhirnya mereka bertanya sambil mengerlingkan matanya padaku.
"Teater Ah gimana?"

Bagaimana harus ku menjawab?

26 September 2008

Forget and Remember

Life-Live-Search-Destroy-Vanish-Die-Nothingness

Dreams of the past
so sweet to remember
Quite stale to relive

Dreams of a hope
still linger calmly in heart
But the bodily will has flown out

So,
Lets live and let live!
Lets gather and feast upon our dreams of the past
Lets eat and drink!
Lets forget and rejoice!
Lets remember and rejoice!

Ayo ketemuan yuk..

-the guy formerly known as priaboesoek

17 September 2008

saat

saat wajah tak lagi bertemu..
saat waktu hanya ada satu...
yang tersisa hanya rindu



by Irma Transisi
Bandung, 17 September 2008. 14.06
disela-sela pekerjaan kantor dan panasnya bandung

*ketemuan yuk hehehehe*

Ah!


Bukan berarti kita pecah dan berserakan.
tetapi...
Biarkan kita bertebararan
memberi gaung...
memberi makna...